Minggu, 03 Februari 2013

Oleh: Muhammad Elvandi, Lc."Pahlawan Muda...ditangan merekalah, Indonesiaakan mengambil gilirannya, bukan hanya dalammensejahterakan negerinya, tapi juga dalammemimpin dunia yang mulai terseok-seok!",kalimat itu ia teriakan ditengah ribuan pendengar.Semua sepi, semua hening, dan nafas-nafastertahankan di dada hanya untuk mendengarkansetiap butir kata, yang ia ucapkan penuh makna.Kata-katanya menjadi inspirasi, menyentuhpribadi, bagi trainer, bagi guru, bagi penceramah,dan bagi seluruh pemuda di penjuru negeridengan semangat berapi-api.Ialah H. Muhammad Anis Matta, Lc. Masamudanya tak ia habiskan berhura-hura, namunpenuh gelora berjuang dan membaca. Prestasi SDnya jelek tak seberapa, tapi di Pesantren (DarulArqam) Gombara, posisinya kukuh tak bergeserdari kursi juara, dari tahun 80 hingga 86.Organisasi dikenalnya sejak kecil, dan kelas satuSMA sudah bukan lagi anggota biasa, tapi sudahmampu menjadi instruktur IPM lalu kelas duamenjadi sekretaris cabang Muhammadiyyah.Namun tumpukan prestasi masa muda takmembuat ia berbangga. Ia rasakan kepedihanbatin, keresahan membuncah-buncah, jugapanggilan nurani untuk tak henti mengasah diri.LIPIA Jakartalah jamuan sejarah baginya walaukesempatan kuliah di Fikom UNHAS juga terbuka.Ia lahap dua belas jam sehari buku-bukunya saatliburan, dan lima jam di luar diktat saat masakuliahan. Bahkan dosen LIPIA nya berkata "jika saja ada nilai lebih dari mumtaz, Anis Mattapasti kan mampu melibas", maka dari itu takpernah sekalipun ia terkalahkan sebagai orangtercerdas juga tergigih, dalam nilai kuliah akhirataupun ratusan buku mutakhir, dari Psikologiterapan, teori-teori belajar, pengembangan diri,konsep-konsep Politik, negara, pergerakan, bisnis,dan sastra-sastra tingkat dunia.Setuntasnya dari kuliah, ia menumpahkansemangat mudanya dalam pergerakan. Membinadan berorganisasi, berceramah dan menulis,hingga tahun 1998 dipercaya menjadi SekretarisJendral Partai Keadilan (PK). Saat itu usianya baru30 tahun. Kinerja dan karya nyatanya iasempurnakan dengan gilang-gemilang, sampai-sampai tahun 2000 ia berkesempatan mengikutiprogramAmerican Young Council for Young PoliticianLeader (ACYPL) di Amerika.Tak kurang bergengsinya, setelah ia menamatkanKursus Singkat Angkatan (KSA) Lemhanas, iakemudian menjadi instukturnya, tak kepalangtanggung, jendral-jendral ia latih disana.Sekarang ia berjuang dalam posisinya sebagaiwakil ketua DPR RI. Dan tetap dipercaya sebagaiSekretaris Jenderal PKS, sehingga ada anekdot'siapapun presiden PKS, Sekjennya Anis Matta'.Istrinya Anaway Irianti. Dan karena tingginyanaluri seni serta keindahan yang mekar bersemidalam jiwanya, maka selera percintaannya puntidak sembarangan, bercita rasa tinggi, sehinggaistri keduanya adalah seorang dara Eropa Timur,Hongaria, Fabula Szilvia yang dinikahinyabeberapa tahun yang lalu.Bakat masa kecilnya sebetulnya cerpen dan puisi.Keduanya lalu tenggelam dan terkubur beberapalama, tapi kembali menyeruak di masa-masa kini,membuat tulisan-tulisan ilmiahnya kuat, berisi,dan sastrawi. "cerdas bermetafora, puitis disini sana" TaufiqIsmail Sang Penyair mengomentari, jugafasihun, balighun, muatsirun finnafs sesuaibalaghoh sejati.Semua keindahan tulisan, dan kejelian analisis ituterkumpul dalam: Konsep Seni dalam Islam(1995), Wawasan Islam dan Ekonomi (1997),Sepanjang Hari Bersama Allah: Seni Berdo'a(1997), Biar kuncupnya mekar menjadi bunga(2000), Membangun karakter muslim (2002),Model Manusia Muslim Abad 21 (2002),Menikmati Demokrasi (2003), Dari Gerakan keNegara (2006), Serial Cinta (2006).Dan gaya tulisannya bisa dikatakan bermuatanberat seberat Malik bin Nabi namun indah seindahMustafa Sadek Arrafi'i.Ia pernah beberapa kali menjadi penerjemahkhusus jika Syaikh Yusuf Qardawi berkunjung keIndonesia. Dan ketika Yusuf Qardawi, dalamsebuah ceramah, mempersilakan Anis Matta untukmenterjemahkan kata-katanya setiap sepuluhmenit, dengan percaya diri Anis Mattamempersilakan Yusuf Qardawi melanjutkanceramahnya, dan ia terjemahkan setelahnya kedalam bahasa Indonesia sepanjang aslinya,hebatnya lagi dengan terjemahan tekstual, bukantafsiran.Anis sering didaulat mengisi bermacam ceramah,seminar, taushiah, di berbagai komunitas:komunitas remaja, orang kantoran, pejabat,aktivis, mahasiswa, ibu-ibu, juga kalangan jetsetyang jika ditawari 'amplop' ceramah puluhan juta,ditolaknya dengan halus, karena selain ia inginmenyebar nilai Islam di berbagai lapisanmasyarakat, ia ingin pula membangunpersahabatan dengan beragam lapisan itu tanpaimbalan.Ia tak hanya berda'wah di dalam negeri, suaranyamelengking hingga menembus negara-negaraasing, benua Amerika, puluhan negara Eropa,jepang, Australia, dan negera-negara TimurTengah tentunya. Sehingga ia mengokohkandirinya sebagai seorang da'i, pemikir muslim,ilmuan, berlevel internasional, ini dari satu sisi.Sedang dari sisi lain, ia sedang tumbuh menjadinegarawan baru bangsa. Ceramahnya yang dulubertempo lambat, sering terbata-bata dan salahkata, telah ditambal dan di sulam. Ia sekarangmampu beretorika dalam debat-debat nasional,dengan argumen logis, sistematis, puitis, danberbekal data-data empiris. Sehingga misalnyadalam dialog-dialog besar yang menghadirkanpara doktor politik dan sosial, aura merekatenggelam dalam bangunan keilmuan Anis yangtinggi menjulang, luas membentang, hanyabermodalkan Lc pula.Ia adalah satu-satunya debator yang ditakuti UlilAbshar Abdalla Sang Kordinator JIL yang kesohoritu, sehingga ia ciut tidak berani menghadapi Anisdalam debat publik.Lebih jauh lagi, Anis telah mengembangkankemampuan baru retorikanya: orasi. Walau belumlagi sempurna, namun ia sedang berjalanmemenuhi kualifikasi seorang negarawan yangdibutuhkan Indonesia sebagaimana dalamtulisannya,'bukan karena kita menang pemilu saja maka kitamemimpin' , ia melihat bahwa basic competentseorang pemimpin negara adalahNarrative Intelligent, yang terwujud dalam orasidan tulisan yang tajam.Sehingga Anis berkukuh bahwa seorang pemimpinbesar haruslah orator ulung dan penulis yangmemukau, mutlak, jika tidak, ia tidak akan abadi.Dan ketika ditanyakan bangunan pengetahuanyang dibutuhkan untuk menjadi seorangnegarawan, ia mengurutkan "...sejarah, sastra, dan kebudayaan, baru kePsikologi, Sosiologi, Ekonomi, Hukum, dan ilmupolitik.Selain itu basis bahasa dan ilmu komunikasi,negarawan adalah pemikir strategis dan pelakukepemimpinan, designing and leading". Dan Anisdalam perjalanan mencapainya, di usianya yangbaru akan mencapai 44 tahun pada 7 Desembernanti.Gagasan-gagasan iklan PKS Anis, dikenalkontroversial, namun seorang pakar hipnotis asalBandung, Muhammad Isman Richmarch Hakim,mengatakan bahwa iklan-iklan itu justru iklanPolitik tercerdas yang pernah ada karena selainmuatannya berisi pesan bijak kepahlawanan, jugakarena sekali-dua kali beriklan saja namun meraupsimpati massa meruah-ruah tak terkira, sebuahtambahan lagi bagi prestasinya, karena ialah sangpanglima TPPN (Tim Pemenangan PemiluNasional) PKS saat pemilu 2009.Bagi Anis, "..kerja belum selesai, belum apa-apa"sebagaimana syair Chairil yang dikutipnya ditulisan'O, Pahlawan Negeriku ', ia berkeyakinan bahwaorang besar adalah orang yang berorientasi padakerja-kerja besar, cita-cita besar dan melupakansemua kerja-kerja kecil yang pernah diraih.Orang besar diukur oleh kontribusi padakemanusiaan, sehingga ia pernah berseru-serudalam puisi agungnya,Nyanyian Pahlawan, "Katakan padaku wahai hari, apa yang dapatkuberikan pada sejarah hari ini, katakan padakuwahai malam, berapa bintang kau perlukan untukmenerangi langitmu".Sehingga wajar saja bagi PKS yang meyakinikesepakatan tak tertulis bahwa jika ada agenda-agenda raksasa partai yang mustahil, serahkansaja pada Anis Matta.Dan standar cita-cita bagi Anis, ketika saatnyaPKS memimpin dan membangun negaraIndonesia, semua itu bukanlah akhir, tapi awalsebuah peradaban dunia.Sehingga yang tersisa adalah ungkapan pemikirSyiria, Syakib Arslan 'Ma a'dzama hadza diin laukana lahu rijal ' [alangkah besar agama ini kalausaja ia memiliki tokoh-tokoh besar].Lelaki itu telah ada, dan telah lahir. Sudah meraupbermacam ilmu serta berkeras tekad sejak dahulu.Indonesia sedang menunggunya naik gelanggang.Indonesia sedang menyaksikan seorang anakkampung Bone Sulawesi Selatan tumbuh untukmengguncang bangsa.Dimana dia berada? Anak kampung itumelantangkan lagi puisinya "Wahai Umat wahai bangsa, Aku selalu ada disini,saat darah saat air mata, Aku datang mengantarumat, pada gerbang sejarah baru".

1 komentar: